TENIS MEJA : Sejarah, Ukuran Meja, dan Tekniknya
A. Sejarah Tenis Meja
Istilah
kata
ping pong ( tenis meja ) merupakan nama resmi untuk Republik Rakyat Cina
( RRC ), namun di Indonesia juga tidak asing lagi dengan istilah ping pong tersebut.
Permainan Tenis Meja sama dengan permainan badminton yaitu menggunakan raket, namun raket bola Tenis Meja terbuat dari papan dan dilapisi dengan karet atau sering disebut bet.
Permainan Tenis Meja sama dengan permainan badminton yaitu menggunakan raket, namun raket bola Tenis Meja terbuat dari papan dan dilapisi dengan karet atau sering disebut bet.
Tenis meja mencuat
akhir 1800-an sebagai kegiatan sosial di Inggris. Olahraga ini juga populer di
Amerika Serikat (USA) sekitar 1900-an.
Ketika tahun gilir berganti, tenis meja mengalami sejumlah perubahan di Inggris. Ada yang memperkenalkan bola seluloid dan menambahkan karet pada bet yang terbuat dari kayu.
Ketika tahun gilir berganti, tenis meja mengalami sejumlah perubahan di Inggris. Ada yang memperkenalkan bola seluloid dan menambahkan karet pada bet yang terbuat dari kayu.
Olahraga ini pun
segera menyebar ke Jepang dan negara Asia lain. Jepang pun mendominasi olahraga
tersebut pada tahun 1950-1960-an. Namun, Cina langsung mengejar ketertinggalan.
Sekitar tahun 1960-an dan 1970-an, Cina mendominasi sendiri tenis meja. Tapi, setelah
tenis meja menjadi cabang olahraga yang dilombakan di Olimpiade pada tahun 1980-an,
negara lain seperti Swedia dan Korea Selatan turut masuk dalam jajaran papan
atas dunia.
Ketika permainan
ini mulai kehilangan popularitas. Muncul satu gerakan yang dimulai dari
sejumlah kawasan di dunia berupaya menghidupkan kembali tenis meja sebagai
olahraga utama pada tahun 1922. Terbentuklah Federasi Tenis Meja Internasional
(ITTF) yang terdiri atas 140 negara anggota pada tahun 1926.
ITTF juga
menjadi sponsor individu dan tim yang bermain di kejuaraan dunia yang
diselenggarakan dua tahun sekali. Federasi
ini telah mengadakan dangan
sukses 10 kejuaraan Asia, yaitu : Ke 1 di Negara Singapura tahun 1952,
Ke 2 di Negara Jepang
tahun 1954, Ke 3 di Negara Singapura tahun 1956, Ke 4 di Negara Filipina
tahun 1958, Ke 5 di Negara India tahun 1960, Ke 6 di Negara Filipina
tahun 1962, Ke 7 di Negara Korea Selatan tahun 1964, Ke 8 di Negara
Singapura tahun 1966, Ke 9 di Negara INDONESIA tahun 1968, Ke 10 di
Negara Jepang tahun 1970.
B. Ukuran Meja Tenis Meja
Ukuran Meja
Tenis Meja
1.
Panjang
= 274 cm
2. Lebar = 152,5 cm
2. Lebar = 152,5 cm
3.
Tebal
garis sisi = 2 cm
4.
Tinggi
meja dari lantai lapangan = 76 cm
5.
Luas
= 4,1785 meter persegi
C.
Teknik Tenis
Meja
1. Teknik Memegang
Bet (Grip).
Secara garis besar memegang bet (grip) dapat dibedakan menjadi dua macam:
a) memegang bet seperti berjabat tangan (Shakehand Grip),
b) memegang bet seperti memegang pena (Penhold Grip)
Secara garis besar memegang bet (grip) dapat dibedakan menjadi dua macam:
a) memegang bet seperti berjabat tangan (Shakehand Grip),
b) memegang bet seperti memegang pena (Penhold Grip)
Shakehand Grip
sangat populer terutama di negara-negara Eropa atau dunia Barat. Dengan
pegangan ini, seorang pemain dapat menggunakan kedua sisi bet.
Sedangkan Penhold Grip dikenal pula dengan Asia Grip. Pada pegangan ini hanya satu sisi bet yang dapat digunakan.
Sedangkan Penhold Grip dikenal pula dengan Asia Grip. Pada pegangan ini hanya satu sisi bet yang dapat digunakan.
2.
Teknik Siap
Sedia (Stance).
Stance berarti
posisi kaki, badan dan tangan pada saat siap menunggu bola atau pada saat
memukul bola.
Ada dua bentuk stance dalam permainan tenis meja: a) Square Stance (posisi badan menghadap penuh ke meja), b) Side Stance (posisi badan menyamping, baik ke samping kiri maupun ke samping kanan).
Ada dua bentuk stance dalam permainan tenis meja: a) Square Stance (posisi badan menghadap penuh ke meja), b) Side Stance (posisi badan menyamping, baik ke samping kiri maupun ke samping kanan).
Square Stance digunakan
untuk menerima servis dari lawan atau siap kembali setelah mengembalikan
pukulan dari lawan.
Dengan satu langkah ke samping kiri, samping kanan, ke depan, ke belakang maupun diagonal, pemain diharapkan dapat mengembalikan bola dengan akurat.
Pada Side Stance jarak antara bahu ke meja atau ke net harus ada yang lebih dekat.
Dengan satu langkah ke samping kiri, samping kanan, ke depan, ke belakang maupun diagonal, pemain diharapkan dapat mengembalikan bola dengan akurat.
Pada Side Stance jarak antara bahu ke meja atau ke net harus ada yang lebih dekat.
3. Teknik Gerakan Kaki (Footwork)
Footwork dibedakan
untuk nomor tunggal dan nomor ganda. Jika dilihat dari banyaknya langkah
footwork, untuk tunggal dapat dibedakan: satu langkah, dua langkah dan tiga
langkah atau lebih.
Arah pergerakannya bisa ke depan, ke belakang, ke samping kiri, samping kanan atau diagonal.
Arah pergerakannya bisa ke depan, ke belakang, ke samping kiri, samping kanan atau diagonal.
4.
Teknik Pukulan
(Stroke). Teknik pukulan dalam tenis meja antara lain :
a) Pukulan
Forehand (dilakukan jika bola berada disebelah kanan tubuh),
b)Pukulan Backhand (dilakukan jika bola berada disebelah kiri badan)
b)Pukulan Backhand (dilakukan jika bola berada disebelah kiri badan)
Cara melakukan Pukulan
Forehand adalah dengan merendahkan posisi tubuh, lalu gerakkan tangan yang
memegang bet ke arah pinggang.
Jika tidak kidal gerakan ke arah kanan. Siku membentuk sudut kira-kira 90 derajat. Sekarang tinggal menggerakkan tangan kedepan tanpa merubah siku.
Cara melakukan Pukulan
Backhand pertama rendahkan posisi tubuh lalu gerakkan tangan ke arah pinggang sebelah kiri. Jika tidak kidal gerakan ke arah kanan. Siku membentuk sudut kira-kira 90 derajat. Sekarang tinggal menggerakkan tangan kedepan tanpa merubah siku.
Jika tidak kidal, dengan sudut siku sembilan puluh derajat. Gerakkan tangan dan bet ke arah depan, jaga siku agar tetap sembilan puluh derajat dan bet tetap lurus.







